Wednesday, March 21, 2012

MATERI KULIAH PAKAR EPIDEMIOLOGI UMUM - HARI KAMIS

Silakan Download di sini: 
Epidemiologi 

Tuesday, March 13, 2012

MATERI KULIAH PAKAR

Silakan unduh disini:
Materi kuliah pakar hari selasa

Monday, March 5, 2012

BLOK 3 - KASUS 2

Silakan untuk mengunduh untuk data file makalah:

blok 3 - kasus 2




Untuk file kelompok 3 dan 4 masih belum masuk ke admin, mohon segera untuk mengirim file via email. trimakasih.

Monday, February 27, 2012

Bahaya Penyakit Gigi

 Sakit gigi merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat di tahan oleh dewasa, orang tua, maupun anak-anak. Banyak orang tidak mengetahui bahayanya penyakit gigi terhadap diri kita sendiri.
Tanggal 27 February tahun lalu,ada berita di Washington Post bahwa seorang anak berusia 12 tahun meninggal gara2 salah satu giginya abscess (bernanah). Rupanya anak ini (namanya Deamonte Driver ) berasal dari keluarga miskin, mereka tinggal didaerah Maryland ,(MD) USA. Orang tua Deamonte tidak mempunyai medical & dental insurance, jadi persoalan giginya didiamkan saja dengan harapan tidak akan terjadi apa2. Tetapi ternyata timbul komplikasi, dimana kuman2 dari giginya yang abscess telah menjalar ke otak sehingga menyebabkan brain abscess (odontogenic in origin). Deamonte merasakan sakit di kepala yang sangat hebat sehingga terpaksa dirush kehospital dan dilakukan emergency brain surgery.
Dia dirawat selama 6 minggu dirumah sakit, menelan biaya lebih dari $250,000 US (biaya ini terpaksa ditanggung pemerintah), menjalani 2 kali operasi otak dan giginya yang abscess dicabut tetapi akhirnya dia meninggal dunia. Kalau saja orang tua Deamonte tahu akan bahayanya penyakit gigi tentu dia sekarang masih hidup. Saya percaya kasus seperti ini tentu terjadi juga dinegara lain, termasuk Indonesia hanya saja tidak diberitakan oleh media.
Salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi pada orang dewasa adalah Periodontal Disease/Periodontitis (di Amrik disebut juga gum disease). Periodontitis adalah peradangan dari jaringan periodontium. Periodontium terdiri dari 4 bagian :
    * 1.Gum/ gusi
    * 2.Alveolar bone/ tulang alveolar
    * 3.Cementum/ lapisan luar dari akar gigi
    * 4.Periodontal Ligament/serat2 yang memegang gigi ketulang alveolar.
The World Health Organization (WHO) melaporkan kira2 15 % dari adults diseluruh dunia mengidap advanced periodontal disease.
Di Amerika sekitar 30-50 % dari adults diatas 30 tahun menderita penyakit ini.
Periodontal Disease disebabkan oleh bakteri yang melekat pada permukaan gigi (dental plaque) dan enzym yang dikeluarkan oleh tubuh sebagai imunne response terhadap serangan bakteri. Dari riset2 belakangan ini ternyata enzym ini malah merusak jaringan periodontium, sehingga terjadi periodontal pocket (celah2 diantara gusi dan gigi). Para ahli berusaha mencari jalan untuk mencegah aktivitas enzym yang merusak ini. Dan sekarang sudah ditemukan obat yang dapat mengurangi aktivitas enzym ini. Nama obatnya " Periostat ", it is the first medication that works by reducing the activity of the enzymes that destroy periodontium. Periostat (20 mg, twice a day) banyak digunakan untuk Advanced Periodontal Disease.
Tanda2nya anda terkena penyakit gusi/Periodontal Disease :
    * gusi berwarna merah (not pink) & mudah berdarah selagi sikat gigi ,dental floss/benang gigi atau menggigit makanan yang keras.
    * gusi bengkak.
    * bau mulut yang aduhai (bad breath).
    * gusi menyusut (gingival recession) sehingga gigi kelihatan panjang2.
    * deep pockets ( Celah2 diantara gusi dan gigi ) 4-10 mm /more.
    * gigi goyang.
Pencegahan untuk penyakit gusi :
    * gosok gigi yang benar, paling sedikit 2x sehari.
    * flossing dengan benang gigi/ dental floss sekali sehari.
    * kumur2 dengan anti bakteri mouthwash, seperti Listerine atau Chlorhexidine Gluconate 0,12 % ( Peridex )
    * regular dental check ups & cleaning oleh dokter gigi / hygienist.
Sejumlah riset belakangan ini mengatakan adanya hubungan antara penyakit gigi dengan diabetes , penyakit jantung koroner & stroke. Professor Howard Jenkins dari University Of Bristol in England mengatakan ada lebih dari 700 jenis bakteri didalam mulut manusia. Kebanyakan dari bakteri ini memang tidak berbahaya , namun ada beberapa diantaranya yang dapat menimbulkan penyakit pada pembuluh darah dimana bakteri yang berbahaya menempel pada platelet sehingga menyebabkan penggumpalan didalam blood vessel.
Kalau penggumpalan darah ini terjadi didaerah otak maka akan mengakibatkan stroke, apabila terjadi di jantung akan menyebabkan heart attack. The WHO believes that oral health is essential to quality of life and affects general health, particularly chronic inflammatory conditions such as  diabetes, cardiovascular or cerebrovascular disease.

Sumber: PDGI Online

Sunday, February 26, 2012

Tumor Raksasa di Mulut Alfiah Bukan Karena Tusuk Gigi

Semarang, Gadis asal Tegal Jawa Tengah terbaring lemas di RSUP Dr Kariyadi, Semarang akibat tumor sebesar semangka di wajahnya. Ayahnya yakin ini gara-gara tusuk gigi, namun dugaan ini dibantah oleh dokter.

Alfiah (19 tahun), gadis belia asal Desa Kedungkelor, Tegal, Jawa Tengah tidak menyangka kondisinya akan berakhir seperti ini. Bermula sejak 5 tahun yang lalu, ia menemukan bintitan kecil mirip jerawat di wajahnya persis di samping bibir sebelah kiri.

Lama kelamaan, bintitan itu terasa gatal dan rasanya ingin digaruk sampai ke dalam. Karena tidak tertahankan, suatu ketika Alfiah nekat menggaruk bagian bibirnya dari dalam dengan tusuk gigi sehingga akhirnya berdarah.

"Gara-garanya itu memang tusuk gigi mas. Sejak kena tusuk gigi lalu berdarah, bintitannya makin membesar," ungkap Samlawi (56 tahun), ayah Alfiah yang sepertinya yakin betul bahwa kanker di mulut anak ke-9 dari 10 bersaudara itu dipicu oleh tusuk gigi.

Karena terus membesar hingga sebesar semangka muda, Alfiah akhirnya diperiksakan di RS Ashari Pemalang, lalu dirujuk ke RS Kardina Slawi. Karena peralatannya tetap belum memadahi, Alfiah dirujuk lagi ke RS Soesilo Slawi dan akhirnya sejak Rabu (9/11/2011) dirujuk ke RSUP Dr Kariyadi Semarang.

"Ini sudah keempat kalinya pindah rumah sakit. Yah, mudah-mudahan di sini bisa sembuh," ungkap Warsinah (50 tahun), ibu Alfiah yang tidak bisa berjualan rujak sejak merawat Alfiah, saat ditemui detikHealth di RSUP Dr Kariyadi, Rabu (16/11/2011).

Karena pengobatan secara medis terkesan lambat memberikan kemajuan, keluarga sempat membawa Alfiah ke tabib dan pengobatan alternatif. Kakaknya yang nomor 7, Samsudin bahkan pernah membawanya berobat ke seorang tabib di Banten tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Akibat tumor tersebut, Alfiah tidak bisa beraktivitas normal seperti gadis belia yang lain seusianya. Ia bahkan tidak menamatkan sekolahnya di sebuah Sekolah Dasar di Tegal, karena tak kuat menanggung malu sejak dagunya makin membesar.

"Sakit mas, hanya bisa makan bubur. Agak lemes juga, tapi lainnya nggak apa-apa, nafsu makan juga tetep ada kok," kata Alfiah sambil berusaha untuk tersenyum, meski sesekali harus meringis menahan sakit.

Tumor yang menggerogoti Alfiah juga menjadi beban tersendiri bagi Samlawi, mantan nelayan yang karena faktor usia sudah harus berhenti melaut dan kini tidak punya pekerjaan tetap. Untuk biaya pengobatan Alfiah, ia 100 persen mengandalkan fasilitas Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

Bukan Karena Tusuk Gigi

Dugaan bahwa tumor atau lebih tepatnya ameloblastoma jinak yang diderita Alfiah dipicu oleh tusuk gigi dibantah oleh Dr Darwito, SpB(K)Onk, SH yang menanganinya. Menurutnya, tusuk gigi paling-paling hanya akan memicu infeksi tapi tidak mungkin berlanjut menjadi tumor seperti ini.

"Penyebab pasti tidak diketahui, tapi dalam kasus ini ameloblastoma berasal dari sel email gigi yang tumbuh tak terkendali. Yang membesar itu tulang yang keropos sebenarnya," kata Dr Darwito saat ditemui detikHealth di ruang kerjanya.

Jaringan email yang keropos lalu membesar ini menurut Dr Darwito memicu 'fenomena ping-pong'. Benjolan sebesar semangka di wajah Alfiah jika dipijat akan mengeluarkan bunyi seperti bola ping-pong diremas dan rasanya akan sangat sakit.

Tindakan yang akan dilakukan adalah operasi pengangkatan hingga batas tumbuh jaringan yang sehat, sehingga kemungkinan besar Alfiah akan kehilangan 2/3 rahangnya karena harus dipotong. Sebagai gantinya, rahang Alfiah akan diganti plate atau lempengan logam sebagai rahang buatan.

"Rencananya operasinya besok Jumat, nanti kita akan undang media juga. Kalau tidak ada komplikasi, Alfiah hanya butuh masa pemulihan sekitar 2 minggu saja. Soal rahang, memang nantinya dia jadi tidak punya gigi tapi itu nanti saja dipikirkan, bisa dipasang gigi buatan," pungkas Dr Darwito.

(up/ir)
sumber: detik health

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan



Sariawan Neng...! Kata-kata itu sering kita dengar pada aneka iklan suplemen obat panas yang berseliweran di televisi. Sariawan, gangguan penyakit pada rongga mulut, ini kadang ditanggapi sepele oleh penderitanya. Entah dengan didiamkan saja dengan harapan penyakitnya hilang sendiri atau dengan banyak mengkonsumsi sambal yang diyakini bisa mengobati sariawan. Meski penyakit ini sering terjadi di masyarakat, ternyata tak banyak yang tahu apa penyebab terjadinya sariawan.
Seperti dikemukakan Dr. drg. Harmas Yazid Yusuf, SpBM dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, sariawan merupakan bahasa awam untuk berbagai macam lesi/benjolan yang timbul di rongga mulut. Biasanya jenis sariawan yang sering timbul sehari-hari pada rongga mulut disebut Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR).
Gejalanya berupa rasa sakit atau rasa terbakar satu sampai dua hari yang kemudian bisa timbul luka (ulser) di rongga mulut. Rasa sakit dan rasa panas pada sariawan ini membuat kita susah makan dan minum. Sehingga kadang pasien dengan SAR datang ke dokter gigi dalam keadaan lemas.
"Ini sering menyerang siapa saja. Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin. Biasanya daerah yang paling sering timbul SAR ini adalah di mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit-langit," kata drg. Harmas dalam percakapan dengan wartawan disela-sela Kongres Nasional IX Persatuan Ahli Bedah Mulut Indonesia yang diselenggarakan di Bandung, belum lama ini.
Ditanyakan faktor penyebab utama terjadi sariawan, drg. Harmas mengatakan, sampai saat ini belum diketahui penyebab utama sariawan. Namun para ahli menduga banyak hal yang menjadi penyebab timbulnya sariawan ini, antara lain, defisiensi (kekurangan) vitamin B12 dan zat besi. Selain juga kemungkinan terkena infeksi virus dan bakteri sebagai pencetus timbulnya sariawan ini. "Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut," ujarnya.
Banyak pendapat menyatakan munculnya sariawan karena kurangnya vitamin C. Namun tidak sepenuhnya pendapat tersebut benar. Bukan berarti Anda kekurangan vitamin C bila terkena sariawan. Ada faktor penyebab lain yang lebih berperan yakni stress.
"Nah yang cukup sering terjadi pada kita, terutama warga kota yang sibuk adalah mengalami stress. Banyak penelitian menunjukkan faktor psikologis yang disebabkan oleh stress merupakan faktor terbesar terjadi sariawan," ujarnya.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari timbulnya sariawan adalah dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Selain jangan lupa untuk menghindari stress. Namun bila ternyata sariawan selalu hilang timbul, Anda dapat mencoba dengan kumur-kumur air garam hangat dan pergi ke dokter gigi untuk meminta obat yang tepat untuk sariawannya.

Kanker Rongga Mulut
Kendati sariawan kelihatannya sepele, drg. Harmas meminta perhatian penderitanya bila sariawan yang dideritanya itu berkepanjangan. Karena hal itu bisa menjadi gejala awal terkena kanker rongga mulut. Begitu pula dengan gangguan pada mulut lainnya, seperti infeksi gigi yang menyebabkan gigi goyang. Jika penyebab gigi goyang itu adalah kanker rongga mulut, pencabutan gigi bisa jadi petaka karena mempermudah penyebaran kanker ke organ vital lainnya.
Drg. Harmas menyebut, kanker rongga mulut memiliki gejala yakni, sariawan berkepanjangan selama lebih dari dua minggu, serta kelenjar getah bening di leher terasa sakit dan sedikit bengkak. "Selain juga adanya benjolan-benjolan yang cukup besar di wilayah rongga mulut," kata drg. Harmas kepada wartawan disela-sela.
Harmas menjelaskan, kanker rongga mulut tergolong berbahaya dan sulit disembuhkan karena kebanyakan kasusnya baru terdeteksi dalam keadaan lanjut. Untuk itu, ia menganjurkan dokter gigi mewaspadai gejala awal kanker rongga mulut berupa sariawan yang berkepanjangan serta infeksi gigi.
Kanker rongga mulut adalah kanker di rongga mulut dan faring. Faring adalah saluran yang terletak antara rongga hidung serta rongga mulut dan kerongkongan, termasuk kanker bibir, lidah, kelenjar liur, gusi, dasar mulut, dan bagian lain mukosa bukal.
Jika ditemukan dalam stadium lanjut, kanker rongga mulut biasanya tidak dapat diangkat lagi karena sudah menyebar jauh. Penyebaran mencakup kepala, kelenjar getah bening di leher, paru-paru, hingga lever.

Vitamin C
Satu hal yang perlu perhatikan dalah bagaimana bersikap bijaksana saat mengkonsumsi vitamin C. Karena mengkonsumsi vitamin C dengan dosis terlalu besar bisa mengganggu penyerapan dan penggunaan vitamin B-12 oleh tubuh. Ia juga menurunkan kerja obat tertentu, dan bisa menyebabkan batu ginjal serta diare.
Konsumsi vitamin C yang tinggi dalam jangka pendek juga bisa menjadikan kita malah seperti kekurangan vitamin C. Ibu hamil yang mengkonsumsi 400 miligram vitamin C per hari sepanjang kehamilan, akan melahirkan bayi yang sariawan. Jumlah vitamin C dalam darah juga akan lebih rendah dari normal jika orang yang membiasakan diri makan vitamin C secara wajar.
Vitamin C tak dapat disimpan dalam tubuh. Sehingga memang perlu dikonsumsi setiap hari. Tapi akibat kesadaran tinggi akan perlunya vitamin C, banyak orang di sekitar kita menyantapnya berlebihan.
Bersikap bijak terhadap vitamin C, sama halnya dengan mengakrabinya secara apa adanya. Karena asupan ini sangat penting bagi tubuh. Terutama bagi mereka yang sering mengalami sariawan, scurvy, bengkak gusi atau luka rongga mulut yang jika diamati benar, bukan penyakit sepele. Bisa menyebabkan kekakuan pada sendi tulang, perdarahan di bawah kulit dan jaringan dalam, penyembuhan luka yang lambat, sampai anemia. Padahal sariawan bisa terjadi pada semua golongan usia, bahkan pada bayi berusia 6-24 bulan.
Vitamin C penting sebagai pembentuk kolagen, protein yang berfungsi sebagai "semen" perekat antar-jaringan tubuh. Kolagen ini dibentuk dari prokolagen, yang mengandung asam amino hidroksiprolin dan hidroksilisin. Dua asam amino itu diubah dari prolin dan lisin, setelah sebelumnya prokolagen dibentuk.
Proses perubahan prolin dan lisin dalam prokolagen ini dilakukan oleh enzim prolil hidroksilase, yang membutuhkan keberadaan ion besi ferro. Padahal, bahan tidak stabil dan mudah dioksidasi. Maka tugas vitamin C adalah menjaga agar ion besi ferro tidak teroksidasi.
Kekurangan vitamin C mengakibatkan proses hidroksilasi dalam prokolagen berkurang. Sehingga serat kolagen yang terbentuk menjadi lebih rapuh. Akibatnya, jaringan lunak seperti dalam rongga mulut, jaringan penghubung antara daging dan gigi, daging dan tulang, mudah robek sehingga timbullah sariawan.
Dinding pembuluh-pembuluh darah kapiler di dalam jaringan juga putus, sehingga terjadi perdarahan, misalnya pada gusi. Gusi berdarah, dan jaringannya lemah serta melunak. Dentin, yang terletak di bawah lapisan email gigi dan menjadi bagian dari akar gigi, pecah. Alat pengunyah itu menjadi goyah dan proses penghancuran makanan menjadi sulit. Sambungan tulang pun nyeri. Sehingga kekurangan vitamin C pada bayi bisa mengakibatkan terganggunya pembentukan jaringan tulang.
Perdarahan dalam kulit akan menimbulkan efek yang lebih parah, misalnya munculnya flek hitam-biru yang tampak pada kulit, berupa munculnya bintik-bintik merah di sekeliling tempat tumbuhnya rambut, misalnya tangan, pantat, lengan, dan punggung.
Sel-sel penumbuh rambut tidak menerima zat-zat gizi dari darah, sehingga rambut tumbuh kasar dan kaku. Jika perdarahan terjadi pada jaringan jantung atau otak, penderita sariawan bisa meninggal mendadak. Ini bisa terjadi jika seseorang kekurangan vitamin C selama 5 bulan! Jadi tidak perlu berlebihan dalam mengkonsumsi vitamin C, alih-alih mau sehat malah sakit. (T-1)

Sumber : Suara Karya Online
PDGI Online